SELULITIS

 

 

2.1  Definisi

 

Sellulitis adalah peradangan menjalar dan akut pada kulit, dan terutama mengenai jaringan subkutan yang lebih dalam (Pandaleke E. J. Herry, 2009)

2.2  Etiologi

 

  1. Streptocoocus betahemolitikus

 

  1. Staphylococcus aureus

 

  1. Hemophilus influenza terutama pada anak

 

2.3 Faktor predisposisi

 

  1. Kakheksia
  2. Malnutrisi
  3. Diabetus mellitus
  4. Disgammaglobulinemia
  5. Alkoholisme
  6. Keadaan yang menurunkan sistem kekebalan tubuh
  7. Adanya edema baik yang berasal dari system renal maupun limphatik
  8. Komplikasi suatu luka atau ulkus yang lain.

 

 

 

 

 

 

2.4  WEB OF CAUTION

 

Streptocoocus betahemolitikus      Staphylococcus aureus          Hemophilus influenza

 

 

 

 

Port de entri

Masuk kejaringan

 

Masuk kealiran limfatik

Melalui aliran darah

 

 

B1                           B2                B3              B4              B5                                 B6

Batuk, pilek       demam,          nyeri,      urine pekat     nyeri telan        kulit merah,

Radang             bengkak          gelisah                                              panas, bengkak,

Tenggorok        kemerahan                         protienuri                            exudatif

Hematuri

infeksi       Gg. Rasa                       intake nutrisi                             Nyeri  sesak                                   nyaman                            kurang      destruksi kulit

nyeri

Gg. Pola           peningkatan

napas               suhu tubuh                                         Nutrisi kurang              Gg. mobilitas

dari kebutuhan                      fisik

 

Gg.Integritas kulit

 

2.5  Diagnosa banding

  1. Pada pemeriksaan selulitisAdanya macula eritemateus, tepi tidak meningggi, batas tidak jelas, edema, infiltrate dan terba panas, dapat disertai limphangitis dan lymphadenitis, demam, dan biasanya bisa septicemia.

Pada selulitis yang disebabkan oleh hemolitikus influenza, lesi kulit berwarna merah keabu-abuan, merah kebiru-biruan, merah keungu-unguan, kondisi klinis seperti ini bisa juga terdapat pada selulitis yang disebabkan streptokokus  pneumonia.

Anak dengan selulitis yang disebabkan oleh hemolitikus influenza tampak sakit berat dan toksik, sering disertai gejala infeksi saluran pernapasan atas, bakterimia dan sepsis, pada pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis dengan hitung jenis bergeser kekiri.

  1. Erysipelas

Selain selulitis diagnosa banding dari erysipelas adalah dermatitis venenata, edema angioneurotik, scarlet fever, lupus eritematosus, lepra tuberkuloid akut pada wajah.

Pada pemeriksaan klinis didapatkan macula eritematosus yang agak meninggi, berbatas jelas, teraba panas, dan teraba nyeri, diatas macula biasanya terdapat vesikel, adanya demam.

Kuman dapat dijumpai pada hidung, tenggorokan dan mata, titer ASTO meningkat pada minggu pertama.

VI. Gambaran klinis

Tergantung akut tidaknya infeksi, umumnya semua bentuk ditandai dengan kemerahan yang batasnya tidak jelas, nyeri tekan dan pembengkakan, penyebaran perluasan kemerahan dapat timbul secara cepat disekitar luka dan disertai demam, lesu. Pada keadaan akut dapat timbul bula, dapat dijumpai pula limpadenopati, limphangitis. Tanpa pengobatan yang efektif dapat terjadi supuratif lokal ( flegmon, nekrosis atau gangrene).

Lokasi selulitis sering dijumpai pada anggota gerak bawah atau atas, wajah , badan dan genetalia.

A      B

C           D

Gambar 2.1  A. Cellulitis ringan hanya tampak adanya eritema, hangat dan

sedikit sakit, B. Cellulitis pada tangan bengka kemerahan,

hangat dan sangat sakit, C. cellulitis pada kaki kemerahan

tampak bula, D. Cellulitis dengan port de entry

 

2.6 Komplikasi

  1. Gangrene
  2. Metastasis
  3. Abscess
  4. Sepsis yang berat
  5. Pada wajah bisa berakibat thrombosis sinus kavernosum yang septic, penyulit intra cranial berupa meningitis.

2.7  Penatalaksanaan

Pengobatan terdiri dari:

  1.  Mengistirahatkan anggota badan yang terkena
  2.  Membersihkan lokasi luka jika ada (dengan debridemen jaringan mati jika perlu)
  3.  Pengobatan dengan antibiotik oral, kecuali dalam kasus yang parah, yang mungkin memerlukan terapi intravena (IV).
  4. Flukloksasilin monoterapi (untuk menutupi infeksi stafilokokus) sering cukup dalam selulitis ringan, tetapi dalam kasus yang lebih moderat atau di mana infeksi streptokokus diduga, biasanya dikombinasikan dengan antibiotika intravena fenoksimetilpenisilin benzilpenisilin, atau ampisilin / amoksisilin.
  5. Nyeri juga sering diresepkan, tetapi nyeri yang berlebihan harus selalu dianggap relevan, karena merupakan gejala dari fasciitis necrotising, yang membutuhkan perhatian darurat bedah.
  6. Seperti pada penyakit lain yang ditandai dengan luka atau kerusakan jaringan, perawatan oksigen hiperbarik dapat menjadi terapi tambahan yang berharga, tetapi tidak banyak tersedia.
  7. Dalam banyak kasus, selulitis memakan waktu kurang dari seminggu menghilang dengan terapi antibiotik. Namun, dapat membutuhkan dalam hitungan bulan dalam kasus yang lebih serius dan dapat menyebabkan kelemahan yang parah atau bahkan kematian jika tidak diobati. Jika tidak diobati, mungkin akan tampak membaik tetapi dapat muncul kembali bulan atau bahkan tahun kemudian.
  8. Pasien dengan selulitis yang memiliki gejala lokal ringan dan tidak ada bukti penyakit sistemik dapat diobati pada pasien rawat jalan.
  9. Selulitis wajah asal odontogenik membutuhkan saluran/ drainage serta terapi antibiotik.
  10. Tindakan bedah/ Drainase

Urgent konsultasi dengan dokter bedah bila mendapakan adanya krepitus, selulitis meluas, muncul nekrotik kulit, selulitis yang progresif, nyeri tidak proporsional dengan temuan pemeriksaan fisik rasa sakit yang parah pada gerakan pasif, atau adanya necrotizing fasciitis. Selulitis dengan abses membutuhkan drainase bedah dari sumber infeksi untuk perawatan yang memadai.
Perhatian serius untuk necrotizing fasciitis dan / atau adanya kulit nekrotik harus segera dilakukan pemeriksaan pada fasia. Hal ini dapat dilakukan di samping tempat tidur oleh ahli bedah. Dalam banyak kasus selulitis meluas dapat mengakibatkan sindrom kompartemen, yang mungkin memerlukan dekompresi bedah.

2.8 Pencegahan        

  1. Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur menggunakan sabun dan sampho antiseptic agar kuman pathogen secepatnya hilang pada kulit.
  2. Mengatasi faktor predisposisi
  3. Mengusahakan tidak terjadi kerusakan kulit
  4. Mencegah infeksi sekunder
  5. Menbalikkan proses inflamasi

 

 

2.9  Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang diberikan pada pasien yang sudah menunjukkan tingkat keparahan / gejala sistemik

  1. Sebuah sel darah lengkap (CBC) menunjukkan leukositosis, Leukopenia juga bisa terjadi dalam kasus selulitis yang dimediasi oleh racun.
  2. Sediment eritrosit (ESR) dan C-reactive protein (CRP) juga sering meningkat, terutama pada pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
  3. kultur darah sebenarnya tidak perlu Namun, pada penelitian seperti pada pasien dengan komplikasi selulitis lymphedema. karena prevalensi bakteremia lebih tinggi pada individu-individu. Kultur darah juga direkomendasikan pada pasien dengan selulitis yang melibatkan situs anatomi tertentu, seperti mulut dan daerah mata, dan pada mereka dengan riwayat kontak dengan air yang berpotensi terkontaminasi.
  4. Pewarnaan Gram, apakah diperoleh melalui biopsi atau aspirasi dari daerah yang terinfeksi, memiliki hasil yang rendah dan tidak perlu dalam kebanyakan kasus kecuali bila muncul bahan purulen,bula atau abses.
  5. Pemeriksaan fungsi ginjal perlu dipertimbangkan untuk mempertimbangkan  pemberian antibiotika.
  6. Ultrasonografi untuk mendeteksi abses/nanah
  7. Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendeteksi adanya necrotizing fasciitis.
  8. Biopsi, Aspirasi, dan Dissection

Aspirasi dengan  jarum harus dilakukan hanya pada pasien tertentu dan / atau dalam kasus-kasus yang tidak biasa, seperti pasien diabetes, individu immunocompromised, pasien dengan neutropenia atau mereka yang kondisinya tidak membaik dengan terapi empirik, dan pasien dengan riwayat gigitan hewan atau cedera perendaman.

2.9  Pengkajian Keperawatan

  1. Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, agama kepercayaan, suku dan kebangsaan, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendididkan, pekerjaan, alamat dan tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis, alas an dirawat.

  1. Keluhan utama :

keluhan yang dirasakan klien dan keluarga saat dilakukan pengkajian yaitu nyeri pada daerah luka.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Kondisi kesehatan yang mendukung klien sampai menderita sakit dan masuk rumah sakit, yaitu klien yang kena luka tusuk, atau gigitan serangga kemudian satu atau dua hari timbul eritema local dan merasa sakit (nyeri).

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga :

Riwayat penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga, apakah ada penyakit keturunan atau menular lainnya, atau seperti klien (sellulitis).

Data dasar pengkajian:

  1. Aktifitas / istirahat

Tanda :  Penurunana kekuatan,  tahanan, keterbatasan rentang gerak pada

area yang  sakit.

  1. Sirkulasi

Gejala:  Panas

Tanda :  kemerahan , hangat, pembengkakan pada area yang sakit

  1. Pernapasan

Gejala : batuk, pilek ( bila penyebab hemophilus influenzae)

Tanda :  sesak, secret jalan napas

  1. Makanan / cairan

Gejala ; nyeri telan, anorexia, mual muntah

Tanda : bila kondisi parah / sistemik, dehydrasi

  1. Nyeri/ kenyamanan

Gejala : nyeri, nyeri sangat, kekakuan

  1. Keamanan

Tanda :  Panas, kecepatan inflamasi, fungsiolesa, tenderness,destruksi jaringan

  1. Neuro sensori

Gejala : area nyeri

Tanda : perubahan orientasi, afek, perilaku

  1. Penyuluhan / pembelajaran

Pada kondisi ringan cukup rawat jalan dan pemberian antibiotika oral

Pada kondisi parah memerlukan rawat inap, pengobatan, perawatan luka, pemeriksaan,  bantuan aktivitas perawatan diri.

2.10  Diagnosa keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan destruksi jaringan kulit

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

5. Resiko tinggi gangguan pola napas berhubungan dengan batuk pilek

(S. hemophilus influenzae)

6. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan  berhubungan dengan nyeri telan (S.

Hemophilus influenzae).

2.11 Rencana Asuhan Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri

Tujuan :

Nyeri berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam.

Kriteria hasil :

  1. Pasien mengungkapkan nyeri berkurang
  2. Rasa ketidaknyamanan dalam batas yang dapat ditoleransi,
  3. Menampakkan  ketenangan, ekspresi muka yang relaks
  4. Istirahat  tidur dengan aktifitas yang sesuai.

Intervensi Dan Rasional

  1. Kaji ekstremitas nyeri dengan menggunakan skala / peningkatan nyeri

R/ Untuk mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan klien

  1. Jelaskan kebutuhan akan imobilisasi  48 sampai 72 jam.

R/ Menjaga sirkulasi darah dan mengurangi spasme otot

  1. Berikan analgetik jika diperlukan, kaji keefektifan

R/ Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien

  1. Ubah posisi sesering mungkin, pertahankan garis posisi tubuh

R/ Untuk mencegah penekanan dan kelelahan

  1. Bantu dan ajarkan penanganan terhadap nyeri, penggunaan imajinasi, relaksasi dan lainnya.

R/ Imajinasi untuk mengalihkan perhatian klien

  1. Tingkatkan aktivitas distraksi

R/ Distraksi mengurangi ketegangan otot.

  1. Gangguan integritas kulit

Tujuan :

Integritas kulit  mengalami perbaikan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24jam.

kriteria hasil :

  1. Lesi mulai pulih dan area bebas dari infeksi lanjut.
  2. kulit bersih, kering dan area sekitar bebas dari edema
  3.  suhu normal kembali.

Intervensi dan Rasional

  1. Kaji kerusakan, ukuran, kedalaman, warna, cairan setiap 4 jam.

R/  Untuk mengetahui derajat keparahan dari luka, mengukur kedalaman penting untuk menentukan volume luka.

  1. Pertahankan di tempat tidur dengan peninggian ekstremitas dan imobilisasi

R/ Untuk mengurangi edema dan dan meningkatkan sirkulasi

  1. Pertahankan tehnik aseptic

R/ Menjaga kebersihan luka.

  1. Gunakan kompres dan balutan

R/ Menjaga luka dari bakteri yang masuk.

  1. Pantau suhu setiap 4 Jam, laporkan ke dokter jika ada peningkatan.

R/ Untuk mengetahui terjadinya inflamasi pada pasien.

3. Kurang pengetahuan

Tujuan :

pasien dan keluarga bertambah pengetahuannya tentang penyakit yang diderita

setelah dilakukan penyuluhan selama 3x pertemuan.

Kriteria hasil :

  1. Pasien dan keluarga mengetahui penyebab dan cara pencegahan dari penyakit yang diderita.
  2. Pasien melaksanakan perawatan luka dengan benar menggunakan tindakan kewaspadaan aseptic yang tepat.
  3. pasien mengekspresikan pemahaman perkembangan yang diharapkan, tanda infeksi serta jadwal obat.

Intervensi da Rasional,

  1. Diskusikan tentang penyebab dan pencegahan penyakit
  2. Demonstrasikan perawatan luka dan balutan, ubah prosedur, tekanan pentingnya tehnik aseptic.

R/ klien dan keluarga mampu merwat luka klien jika dirumah dan slalu menjaga kebersihan luka klien.

  1. Diskusikan tentang mempertahankan peninggian dan imobilisai ekstremitas yang ditentukan

R/ peninggian dan imobilisasi membantu sirkulasi darah klien

  1. Jelaskan tanda dan gejala untuk dilaporkan ke dokter ( nyeri luka atau penambahan cairan, demam, mengigil atau sakit kepala, bau dari balutan yang luka )

R / Nyeri, sakit kepala pada luka klien mengakibatkan kenyamanan klien terganggu. Dan bau dari balutan merupakan tanda bahwa terjadinya abses pada luka klien.

  1. Diskusikan jadwal pengobatan, meliputi nama, tujuan, dosis dan efek samping

R / Dengan mengetahui jenis obat, jadwal pemberian obat diharapkan klien dapat minum obat secara teratur

  1. Tekankan pentingnya diet nutrisi yang sesuai pada klienR / Dengan makan yang bergizi dapat membantu penyembuhan luka .