Latest Entries »

SUPERVISI KEPERAWATAN

SUPERVISI KEPERAWATAN

2. 1 Pengertian

Supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya adalah mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama (H. Burton, dalam Pier AS, 1997 : 20). Supervisi keperawatan adalah suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dalam rangka mencapai tujuan.

 

2. 2 Tujuan Supervisi

Tujuan supervisi adalah pemenuhan dan peningkatan pelayananan pada klien dan keluarga yang berfokus pada kebutuhan, ketrampilan dan kemampuan perawat dalam melaksanakan tugas.

 

2. 3 Prinsip Supervisi

1. Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi.

2. Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, ketrampilan hubungan antar manusia dan kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan.

3. Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisir dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan, uraian tugas dan standart.

4. Supervisi merupakan proses kerja sama yang demokrasi antara supervisor dan perawat pelaksana.

5. Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik.

6. Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreatifitas dan motivasi.

7. Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna dalam pelayanan keperawatan yang memberi kepuasan klien, perawat dan manajer.

 

2. 4 Pelaksana Supervisi

1. Kepala Ruangan :

a) Bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan pada klien di ruang perawatan

b) Merupakan ujung tombak penentu tercapai atau tidaknya tujuan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

c) Mengawasi perawat pelaksana dalam melaksanakan praktek keperawatan diruang perawatan.

2. Pengawas perawatan :

Bertanggung jawab dalam mensupervisi pelayanan pada kepala ruangan yang ada di instalasinya.

3. Kepala seksi perawatan :

Mengawasi instalasi dalam melaksanakan tugas secara langsung dan seluruh perawat secara tidak langsung.

 

2. 5 Alur Supervisi

 

==> Masih bingung upload

 

Keterangan : Kegiatan supervisi

Delegasi dan supervisi

 

 

2. 6 Langkah-langkah Supervisi

1. Pra supervisi

a) Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi.

b) Supervisor menetapkan tujuan

2. Supervisi

a) Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen yang telah disiapkan.

b) Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan.

c) Supervisor memanggil Perawat Primer dan Perawat Associste untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi permasalahan.

d) Supervisor mengklarifikasi permasalahan yang ada.

e) Supervisor melakukan tanya jawab dengan Perawat Primer dan Perawat Associate

f) Supervisor memberikan masukan dan solusi pada Perawat Primer dan Perawat Associate

g) Supervisor memberikan reinforcement pada Perawat Primer dan Perawat Associate.

 

2. 7 Peran supervisor dan fungsi supervisi keperawatan

Peran dan fungsi supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan keseimbangan pelayanan keperawatan dan manajemen sumber daya yang tersedia.

1. Manajemen pelayanan keperawatan.

Tanggung jawab supervisor adalah :

a) Menetapkan dan mempertahankan standar praktek keperawatan.

b) Menilai kualitas asuhan keperawatan dan pelayanan yang diberikan.

c) Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur pelayanan keperawatan, kerjasama dengan tenaga kesehatan lain yang terkait.

2. Manajemen anggaran

Manajemen keperawatan berperan aktif dalam membantu perencanaan, dan pengembangan. Supervisor berperan dalam :

a) Membantu menilai rencana keseluruhan dikaitkan dengan dana tahunan yg tersedia, mengembangkan tujuan unit yang dapat dicapai sesuai tujuan RS.

b) Membantu mendapatkan informasi statistik untuk perencanaan anggaran keperawatan.

c) Memberi justifikasi proyeksi anggaran unit yang dikelola.

Supervisi yang berhasil guna dan berdaya guna tidak dapat terjadi begitu saja, tetapi memerlukan praktek dan evaluasi penampilan agar dapat dijalankan dengan tepat. Kegegalan supervisi dapat menimbulkan kesenjangan dalam pelayanan keperawatan.

 

2. 8 Tehnik Supervisi meliputi

1. Proses supervisi keperawatan terdiri dari 3 elemen kelompok, yaitu :

a) Mengacu pada standar asuhan keperawatan.

b) Fakta pelaksanaan praktek keperawatan sebagai pembanding untuk menetapkan pencapaian.

c) Tindak lanjut dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kualitas asuhan.

2. Area Supervisi.

a) Pengetahuan dan pengertian tentang klien.

b) Ketrampilan yang dilakukan disesuaikan dengan standar.

c) Sikap penghargaan terhadap pekerjaan misalnya kejujuran, empati

3. Cara Supervisi

Supervisi dapat dilakukan melalui dua cara, Yaitu:

a) Langsung.

Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung, dimana supervisor dapat terlibat dalam kegiatan, feed back dan perbaikan.

Adapun prosesnya adalah:

1) Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan didampingi oleh supervisor.

2) Selama proses, supervisor dapat memberi dukungan, reinforcement dan petunjuk.

3) Setelah selesai, supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi yang bertujuan untuk menguatkan yang telah sesuai dan memperbaiki yang masih kurang. Reinforcement pada aspek yang positif sangat penting dilakukan oleh supervisor.

2) Supervisi secara tidak langsung :

Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi dilapangan sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis.

DAFTAR PUSTAKA

 

Nursalam, 2002. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.

 

Nursalam, 2007. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

 

Gillies, 19VIII9. Managemen Keperawatan Suatu pendekatan Sistem, Edisi Terjemahan. Alih Bahasa Dika Sukmana dkk. Jakarta.

 

FKp, 2009. Buku Panduan Manajemen Keperawatan : Program Pendidikan Ners. Surabaya.

 

…………….. 2008. Kumpulan Materi Kuliah Manajemen Keperawatan : Disampaikan Pada Perkuliahan FKP Unair (tidak dipublikasikan).

AYAH

=AYAH=

Mungkinkah angin berhenti

Sehingga tiada lagi hempasan yang terasa

Angin yang membawa sejuta luka dihati

Yang penuh dengan kepedihan

Keramaian kini telah hilang

Terbawa oleh arus kehidupan

Hampa tanpa ada belaian kasih sayang

Tersisa kenangan cerita denganmu

Kenyataan ini begitu memilukan

Ketika kuingat wajahmu

Ketika kuingat nasehatmu

Dan ketika kuingat kehangatanmu

Sosok seorang ayah’

Yang mempunyai kekayaan jiwa

Dan budi pekerti yang indah

“I Love U Dad”

Penyebab dasar yang diduga sebagai penyebab epistaksis .
Komplikasi yang dapat terjadi pada epistaksis yang tidak segera ditangani
Yang menjadi etiologi terjadinya kanker lidah
faktor resiko untuk terjadinya ca lidah
Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus kanker lidah .
Perencanaan dan implementasi yang terkait dengan perawatan pasien dengan kanker lidah
Kanker nasofaring didefinisikan
Manifestasi utama pada Ca nasofaring
Data Pengkajian yang mungkin akan didapatkan pada klien dengan kecurigaan Ca Nasofaring
Keluhan utama berupa nyeri telan disertai demam dan ditemukan kemerahan pada rongga mulut sekitar faring merupakan salah satu bentuk yang biasa terjadi dikeluhkan oleh pasien
Yang menjadi penularan utama pada pasien dengan faringitis dan perlu perawat sampaikan sebagai pendidikan kesehatan kepada keluar .
Pemberian farmakoterapi yang diberikan pada pasien anak dengan faringitis
Perawatan mandiri perawat pada pasien dengan faringitis
Radang pada mulut yang sering dialami pada anak- anak, sering menyerang pada
Perawatan pasien yang perlu disampaikan pada keluarga pasien terkait faringitis dan tonsilitis .
Beberapa faktor dibawah ini yang menjelaskan mengapa anak-anak sering mengalami radang tenggorokan .
Beberapa indikasi untuk melaksanakan tonsilektomi sebagai alternatif pengobatan tonsilitis .
Komplikasi yang perlu diwaspadai terkait dengan insiden tonsilitis dan faringitis .
Dibawah ini peran yang bertugas untuk menjawab pertanyaan audience dalam penyuluhan
Perbedaan mendasar antara rhinitis dan sinusitis
Salah satu penatalaksanaan medis pada pasien dengan sinusitis
Masalah keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada pasien dengan sinusitis
Beberapa dibawah yang diduga sebagai penyebab awal terjadinya polip
Beberapa hal di bawah ini yang merupakan indikasi pembedahan pada polip
Perawatan pasca operasi polip yang perlu ketahui keluarga pasien saat berada di rumah
Salah satu ciri dari kanker
Syarat terjadinya infeksi mikroorganisme yang dapat menyebabkan sakit
Perbedaan yang utama antara infeksi dan radang

KISI-KISI

KISI-KISI PERSEPSI SENSORI

 

  1. Penyebab dasar yang diduga sebagai penyebab epistaksis .
  2. Komplikasi yang dapat terjadi pada epistaksis yang tidak segera ditangani
  3. Yang menjadi etiologi terjadinya kanker lidah
  4. faktor resiko untuk terjadinya ca lidah
  5. Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus kanker lidah .
  6. Perencanaan dan implementasi yang terkait dengan perawatan pasien dengan kanker lidah
  7. Kanker nasofaring didefinisikan
  8. Manifestasi utama pada Ca nasofaring
  9. Data Pengkajian yang mungkin akan didapatkan pada klien dengan kecurigaan Ca Nasofaring
  10. Keluhan utama berupa nyeri telan disertai demam dan ditemukan kemerahan pada rongga mulut sekitar faring merupakan salah satu bentuk yang biasa terjadi dikeluhkan oleh pasien
  11. Yang menjadi penularan utama pada pasien dengan faringitis dan perlu perawat sampaikan sebagai pendidikan kesehatan kepada keluar .
  12. Pemberian farmakoterapi yang diberikan pada pasien anak dengan faringitis
  13. Perawatan mandiri perawat pada pasien dengan faringitis
  14. Radang pada mulut yang sering dialami pada anak- anak, sering menyerang pada
  15. Perawatan pasien yang perlu disampaikan pada keluarga pasien terkait faringitis dan tonsilitis .
  16. Beberapa faktor dibawah ini yang menjelaskan mengapa anak-anak sering mengalami radang tenggorokan .
  17. Beberapa indikasi untuk melaksanakan tonsilektomi sebagai alternatif pengobatan tonsilitis .
  18. Komplikasi yang perlu diwaspadai terkait dengan insiden tonsilitis dan faringitis .
  19. Dibawah ini peran yang bertugas untuk menjawab pertanyaan audience dalam penyuluhan
  20. Perbedaan mendasar antara rhinitis dan sinusitis
  21. Salah satu penatalaksanaan medis pada pasien dengan sinusitis
  22. Masalah keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada pasien dengan sinusitis
  23. Beberapa dibawah yang diduga sebagai penyebab awal terjadinya polip
  24. Beberapa hal di bawah ini yang merupakan indikasi pembedahan pada polip
  25. Perawatan pasca operasi polip yang perlu ketahui keluarga pasien saat berada di rumah
  26. Salah satu ciri dari kanker
  27. Syarat terjadinya infeksi mikroorganisme yang dapat menyebabkan sakit
  28. Perbedaan yang utama antara infeksi dan radang

Osteoporosis

Teori Konseptual Keperawatan Dorothea E Orem

PENDIDIKAN KESEHATAN

Askep Glaukoma

ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN GLAUKOMA

BAB I
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa tekanan intra okuler penggaungan pupil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.
Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intra okuler. (Long Barbara, 1996)

B. Klasifikasi
1. Glukoma primer
Glukoma sudut terbuka terjadi karena tumor aqueus mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular kelainannya berkenang lambat.
Glaukoma sudut tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi karena ruang anterior menyempit, sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqoeus mengalir ke saluran schlemm.
2. Glaukoma sekunder
Glaukoma yang terjadi akibat penyakit mata lain yang menyebabkan penyempitan sudut / peningkatan volume cairan dari dalam mata dapat diakibatkan oleh : perubahan lensa
Kelainan uvea
Trauma
Bedah
3. Glaukoma kongenital
Glaukoma yang terjadi akibat kegagalan jaringan mesodermal memfungsikan trabekular.
4. Glaukoma absolut
Merupakan stadium akhir, sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.

Berdasarkan lamanya :
1. Glaukoma akut
Penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intra okuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.
2. Glaukoma kronik
Penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.
C. Anatomi dan Fisiologi
Di dalam terdapat dua macam cairan :
1. Aqueus humor
Cairan ini berada di depan lensa.
2. Vitreus humor
Cairan penuh albumin berwarna keputih – putihan seperti agar – agar yang berada dibelakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina. (Evelin C Pearce : 317)
Dalam hal ini cairan yang mengalami gangguan yang dihubungkan dengan penyakit glaukoma adalah aqueus humor, dimana cairan ini berasal dari badan sisiari mengalir ke arah bilik anterior melewati iris dan pupil dan diserap kembali kedalam aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schlemm. (Evelin C. Pearce : 317).
Secara normal TIO 10 -21 mmHg karena adanya hambatan abnormal terhadap aliran aqueus humor mengakibatkan produksi berlebih badan silier sehingga terdapat cairan tersebut. TIO meningkat kadang – kadang mencapai tekanan 50 – 70 mmHg.

D. ETIOLOGI
1. Primer
Terdiri dari
a. Akut
Dapat disebabkan karena trauma.
b. Kronik
Dapat disebabkan karena keturunan dalam keluarga seperti :
Ø Diabetes mellitus
Ø Arterisklerosis
Ø Pemakaian kortikosteroid jangka panjang.
Ø Miopia tinggi dan progresif.
Dari etiologi diatas dapat menyebabkan sudut bilik mata yang sempit.
2. Sekunder
Disebabkan penyakit mata lain seperti :
Ø Katarak
Ø Perubahan lensa
Ø Kelainan uvea
Ø Pembedahan

E. Manifestasi Klinis
1. Glaukoma primer
a. Glaukoma sudut terbuka
– Kerusakan visus yang serius
– Lapang pandang mengecil dengan macam – macam skotoma yang khas
– Perjalanan penyakit progresif lambat
b. Glaukoma sudut tertutup
– Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
– Timbulnya halo disekitar cahaya
– Pandangan kabur
– Sakit kepala
– Mual, muntah
– Kedinginan
– Demam bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang dapat sedemikian kuatnya sehingga keluhan mata (gangguan penglihatan, fotofobia dan lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.
2. Glaukoma sekunder
– Pembesaran bola mata
– Gangguan lapang pandang
– Nyeri didalam mata
3. Glaukoma kongenital
– Gangguan penglihatan
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)

F. Patofisiologi
Tekanan Intra Okuler ditentukan oleh kecepatan produksi akues humor dan aliran keluar akues humor dari mata. TIO normal 10 – 21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran akueos humor. Akueos humor di produksi didalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal schlemm ke dalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akueos melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optik dan retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen tanpa penangan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik buta pada lapang pandang.
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)

ASUHAN KEPERAWATAN GLAUKOMA

A. Pengkajian
1. Anamnesis
Anamnesis meliputi data demografi, yang meliputi :
– Umur, glaukoma primer terjadi pada individu berumur > 40 tahun.
– Ras, kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaukoma paling sedikit 5 kali dari kulit putih (dewit, 1998).
– Pekerjaan, terutama yang beresiko besar mengalami trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata sebelumnya atau pada saat itu, riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan Angle Closume Glaucoma), riwayat trauma (terutama yang mengenai mata), penyakit lain yang sedang diderita (DM, Arterioscierosis, Miopia tinggi)
Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topik, sulit berkonsentrasi dan sensitif, dan berduka karena kehilangan penglihatan. (Indriana N. Istiqomah, 2004)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Neurosensori
– Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas), sinar terang dapat menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap (katarak), tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
– Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berwarna, peningkatan air mata.(www.IFC.com)
– Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan dalampada glaukoma akut primer, karena anterior dangkal, Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
– Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap.
– Pemeriksaan melalui inspeksi, untuk mengetahui adanya inflamasi mata, sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil, sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. Istiqomah,2004)
b. Nyeri/ kenyamanan
– Ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis0
– Nyeri tiba- tiba / berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut). (www. IFC.com).
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu snellen / mesin telebinoklear
Digunakan untuk mengetahui ketajaman mata dan sentral penglihatan
b. Lapang penglihatan
Terjadi penurunan disebabkan oleh CSV, masa tumor pada hipofisis / otak, karotis / patofisiologis, arteri serebral atau glaukoma.
c. Pengukuran tonografi
Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12 – 25 mmHg)
d. Pengukuran gonoskopi
Membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup
e. Tes provokatif
Digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal / hanya meningkat ringan.
f. Pemeriksaan aftalmoskop
Menguji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina dan mikroaneurisma.
g. Darah lengkap, LED
Menunjukkan anemia sistemik / infeksi
h. EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
Memastikan arterosklerosis, PAK
i. Tes toleransi glukosa
Menentukan adanya DM

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan kebutaan
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : nyeri terkontrol / tulang
Kriteria hasil :
Ø Pasien mengatakan nyeri berkurang / hilang
Ø Ekspresi wajah rileks
Ø Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Intervensi :
a. Observasi derajat nyeri mata
Rasional : mengidentifikasi kemajuan / penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b. Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang
Rasional : stress mental / emosi menyebabkan peningkatan TIO
c. Ajarkan pasien teknik distraksi
Rasional : membantu dalam penurunan persepsi / respon nyeri
d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program
Rasional : untuk mengurangi nyeri
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria hasil :
Ø Pasien berpartisipasi dalam program pengobatan
Ø Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan lebih lanjut.
Intervensi :
a. Kaji derajat / tipe kehilangan penglihatan
Rasional : mengetahui harapan masa depan klien dan pilihan intervensi.
b. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan.
Rasional : intervensi dini untuk mencegah kebutaan, klien menghadapi kemungkinan / mengalami kehilangan penglihatan sebagian atau total.
c. Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
Rasional : Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut
d. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, misalnya agen osmotik sistemik.
Rasional : untuk mengurangi TIO
3. Resiko cedera berhubungan dengan kebutaan
Tujuan : peningkatan lapang pandang optimal
Kriteria hasil :
Tidak terjadi cedera.
Intervensi :
a. Bersihkan sekret mata dengan cara benar.
Rasional : sekret mata akan membuat pandangan kabur.
b. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata yang terlibat.
Rasional : terjadi penurunan tajam penglihatan akibat sekret mata.
c. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu penglihatan klien.
d. Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan salep mata
Rasional : membersihkan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah penggunaan obat mata.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawata Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 1. Jakarta : FKUI.

 

SELULITIS

 

 

2.1  Definisi

 

Sellulitis adalah peradangan menjalar dan akut pada kulit, dan terutama mengenai jaringan subkutan yang lebih dalam (Pandaleke E. J. Herry, 2009)

2.2  Etiologi

 

  1. Streptocoocus betahemolitikus

 

  1. Staphylococcus aureus

 

  1. Hemophilus influenza terutama pada anak

 

2.3 Faktor predisposisi

 

  1. Kakheksia
  2. Malnutrisi
  3. Diabetus mellitus
  4. Disgammaglobulinemia
  5. Alkoholisme
  6. Keadaan yang menurunkan sistem kekebalan tubuh
  7. Adanya edema baik yang berasal dari system renal maupun limphatik
  8. Komplikasi suatu luka atau ulkus yang lain.

 

 

 

 

 

 

2.4  WEB OF CAUTION

 

Streptocoocus betahemolitikus      Staphylococcus aureus          Hemophilus influenza

 

 

 

 

Port de entri

Masuk kejaringan

 

Masuk kealiran limfatik

Melalui aliran darah

 

 

B1                           B2                B3              B4              B5                                 B6

Batuk, pilek       demam,          nyeri,      urine pekat     nyeri telan        kulit merah,

Radang             bengkak          gelisah                                              panas, bengkak,

Tenggorok        kemerahan                         protienuri                            exudatif

Hematuri

infeksi       Gg. Rasa                       intake nutrisi                             Nyeri  sesak                                   nyaman                            kurang      destruksi kulit

nyeri

Gg. Pola           peningkatan

napas               suhu tubuh                                         Nutrisi kurang              Gg. mobilitas

dari kebutuhan                      fisik

 

Gg.Integritas kulit

 

2.5  Diagnosa banding

  1. Pada pemeriksaan selulitisAdanya macula eritemateus, tepi tidak meningggi, batas tidak jelas, edema, infiltrate dan terba panas, dapat disertai limphangitis dan lymphadenitis, demam, dan biasanya bisa septicemia.

Pada selulitis yang disebabkan oleh hemolitikus influenza, lesi kulit berwarna merah keabu-abuan, merah kebiru-biruan, merah keungu-unguan, kondisi klinis seperti ini bisa juga terdapat pada selulitis yang disebabkan streptokokus  pneumonia.

Anak dengan selulitis yang disebabkan oleh hemolitikus influenza tampak sakit berat dan toksik, sering disertai gejala infeksi saluran pernapasan atas, bakterimia dan sepsis, pada pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis dengan hitung jenis bergeser kekiri.

  1. Erysipelas

Selain selulitis diagnosa banding dari erysipelas adalah dermatitis venenata, edema angioneurotik, scarlet fever, lupus eritematosus, lepra tuberkuloid akut pada wajah.

Pada pemeriksaan klinis didapatkan macula eritematosus yang agak meninggi, berbatas jelas, teraba panas, dan teraba nyeri, diatas macula biasanya terdapat vesikel, adanya demam.

Kuman dapat dijumpai pada hidung, tenggorokan dan mata, titer ASTO meningkat pada minggu pertama.

VI. Gambaran klinis

Tergantung akut tidaknya infeksi, umumnya semua bentuk ditandai dengan kemerahan yang batasnya tidak jelas, nyeri tekan dan pembengkakan, penyebaran perluasan kemerahan dapat timbul secara cepat disekitar luka dan disertai demam, lesu. Pada keadaan akut dapat timbul bula, dapat dijumpai pula limpadenopati, limphangitis. Tanpa pengobatan yang efektif dapat terjadi supuratif lokal ( flegmon, nekrosis atau gangrene).

Lokasi selulitis sering dijumpai pada anggota gerak bawah atau atas, wajah , badan dan genetalia.

A      B

C           D

Gambar 2.1  A. Cellulitis ringan hanya tampak adanya eritema, hangat dan

sedikit sakit, B. Cellulitis pada tangan bengka kemerahan,

hangat dan sangat sakit, C. cellulitis pada kaki kemerahan

tampak bula, D. Cellulitis dengan port de entry

 

2.6 Komplikasi

  1. Gangrene
  2. Metastasis
  3. Abscess
  4. Sepsis yang berat
  5. Pada wajah bisa berakibat thrombosis sinus kavernosum yang septic, penyulit intra cranial berupa meningitis.

2.7  Penatalaksanaan

Pengobatan terdiri dari:

  1.  Mengistirahatkan anggota badan yang terkena
  2.  Membersihkan lokasi luka jika ada (dengan debridemen jaringan mati jika perlu)
  3.  Pengobatan dengan antibiotik oral, kecuali dalam kasus yang parah, yang mungkin memerlukan terapi intravena (IV).
  4. Flukloksasilin monoterapi (untuk menutupi infeksi stafilokokus) sering cukup dalam selulitis ringan, tetapi dalam kasus yang lebih moderat atau di mana infeksi streptokokus diduga, biasanya dikombinasikan dengan antibiotika intravena fenoksimetilpenisilin benzilpenisilin, atau ampisilin / amoksisilin.
  5. Nyeri juga sering diresepkan, tetapi nyeri yang berlebihan harus selalu dianggap relevan, karena merupakan gejala dari fasciitis necrotising, yang membutuhkan perhatian darurat bedah.
  6. Seperti pada penyakit lain yang ditandai dengan luka atau kerusakan jaringan, perawatan oksigen hiperbarik dapat menjadi terapi tambahan yang berharga, tetapi tidak banyak tersedia.
  7. Dalam banyak kasus, selulitis memakan waktu kurang dari seminggu menghilang dengan terapi antibiotik. Namun, dapat membutuhkan dalam hitungan bulan dalam kasus yang lebih serius dan dapat menyebabkan kelemahan yang parah atau bahkan kematian jika tidak diobati. Jika tidak diobati, mungkin akan tampak membaik tetapi dapat muncul kembali bulan atau bahkan tahun kemudian.
  8. Pasien dengan selulitis yang memiliki gejala lokal ringan dan tidak ada bukti penyakit sistemik dapat diobati pada pasien rawat jalan.
  9. Selulitis wajah asal odontogenik membutuhkan saluran/ drainage serta terapi antibiotik.
  10. Tindakan bedah/ Drainase

Urgent konsultasi dengan dokter bedah bila mendapakan adanya krepitus, selulitis meluas, muncul nekrotik kulit, selulitis yang progresif, nyeri tidak proporsional dengan temuan pemeriksaan fisik rasa sakit yang parah pada gerakan pasif, atau adanya necrotizing fasciitis. Selulitis dengan abses membutuhkan drainase bedah dari sumber infeksi untuk perawatan yang memadai.
Perhatian serius untuk necrotizing fasciitis dan / atau adanya kulit nekrotik harus segera dilakukan pemeriksaan pada fasia. Hal ini dapat dilakukan di samping tempat tidur oleh ahli bedah. Dalam banyak kasus selulitis meluas dapat mengakibatkan sindrom kompartemen, yang mungkin memerlukan dekompresi bedah.

2.8 Pencegahan        

  1. Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur menggunakan sabun dan sampho antiseptic agar kuman pathogen secepatnya hilang pada kulit.
  2. Mengatasi faktor predisposisi
  3. Mengusahakan tidak terjadi kerusakan kulit
  4. Mencegah infeksi sekunder
  5. Menbalikkan proses inflamasi

 

 

2.9  Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang diberikan pada pasien yang sudah menunjukkan tingkat keparahan / gejala sistemik

  1. Sebuah sel darah lengkap (CBC) menunjukkan leukositosis, Leukopenia juga bisa terjadi dalam kasus selulitis yang dimediasi oleh racun.
  2. Sediment eritrosit (ESR) dan C-reactive protein (CRP) juga sering meningkat, terutama pada pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
  3. kultur darah sebenarnya tidak perlu Namun, pada penelitian seperti pada pasien dengan komplikasi selulitis lymphedema. karena prevalensi bakteremia lebih tinggi pada individu-individu. Kultur darah juga direkomendasikan pada pasien dengan selulitis yang melibatkan situs anatomi tertentu, seperti mulut dan daerah mata, dan pada mereka dengan riwayat kontak dengan air yang berpotensi terkontaminasi.
  4. Pewarnaan Gram, apakah diperoleh melalui biopsi atau aspirasi dari daerah yang terinfeksi, memiliki hasil yang rendah dan tidak perlu dalam kebanyakan kasus kecuali bila muncul bahan purulen,bula atau abses.
  5. Pemeriksaan fungsi ginjal perlu dipertimbangkan untuk mempertimbangkan  pemberian antibiotika.
  6. Ultrasonografi untuk mendeteksi abses/nanah
  7. Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendeteksi adanya necrotizing fasciitis.
  8. Biopsi, Aspirasi, dan Dissection

Aspirasi dengan  jarum harus dilakukan hanya pada pasien tertentu dan / atau dalam kasus-kasus yang tidak biasa, seperti pasien diabetes, individu immunocompromised, pasien dengan neutropenia atau mereka yang kondisinya tidak membaik dengan terapi empirik, dan pasien dengan riwayat gigitan hewan atau cedera perendaman.

2.9  Pengkajian Keperawatan

  1. Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, agama kepercayaan, suku dan kebangsaan, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendididkan, pekerjaan, alamat dan tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis, alas an dirawat.

  1. Keluhan utama :

keluhan yang dirasakan klien dan keluarga saat dilakukan pengkajian yaitu nyeri pada daerah luka.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Kondisi kesehatan yang mendukung klien sampai menderita sakit dan masuk rumah sakit, yaitu klien yang kena luka tusuk, atau gigitan serangga kemudian satu atau dua hari timbul eritema local dan merasa sakit (nyeri).

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga :

Riwayat penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga, apakah ada penyakit keturunan atau menular lainnya, atau seperti klien (sellulitis).

Data dasar pengkajian:

  1. Aktifitas / istirahat

Tanda :  Penurunana kekuatan,  tahanan, keterbatasan rentang gerak pada

area yang  sakit.

  1. Sirkulasi

Gejala:  Panas

Tanda :  kemerahan , hangat, pembengkakan pada area yang sakit

  1. Pernapasan

Gejala : batuk, pilek ( bila penyebab hemophilus influenzae)

Tanda :  sesak, secret jalan napas

  1. Makanan / cairan

Gejala ; nyeri telan, anorexia, mual muntah

Tanda : bila kondisi parah / sistemik, dehydrasi

  1. Nyeri/ kenyamanan

Gejala : nyeri, nyeri sangat, kekakuan

  1. Keamanan

Tanda :  Panas, kecepatan inflamasi, fungsiolesa, tenderness,destruksi jaringan

  1. Neuro sensori

Gejala : area nyeri

Tanda : perubahan orientasi, afek, perilaku

  1. Penyuluhan / pembelajaran

Pada kondisi ringan cukup rawat jalan dan pemberian antibiotika oral

Pada kondisi parah memerlukan rawat inap, pengobatan, perawatan luka, pemeriksaan,  bantuan aktivitas perawatan diri.

2.10  Diagnosa keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi

2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan destruksi jaringan kulit

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

5. Resiko tinggi gangguan pola napas berhubungan dengan batuk pilek

(S. hemophilus influenzae)

6. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan  berhubungan dengan nyeri telan (S.

Hemophilus influenzae).

2.11 Rencana Asuhan Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri

Tujuan :

Nyeri berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam.

Kriteria hasil :

  1. Pasien mengungkapkan nyeri berkurang
  2. Rasa ketidaknyamanan dalam batas yang dapat ditoleransi,
  3. Menampakkan  ketenangan, ekspresi muka yang relaks
  4. Istirahat  tidur dengan aktifitas yang sesuai.

Intervensi Dan Rasional

  1. Kaji ekstremitas nyeri dengan menggunakan skala / peningkatan nyeri

R/ Untuk mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan klien

  1. Jelaskan kebutuhan akan imobilisasi  48 sampai 72 jam.

R/ Menjaga sirkulasi darah dan mengurangi spasme otot

  1. Berikan analgetik jika diperlukan, kaji keefektifan

R/ Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien

  1. Ubah posisi sesering mungkin, pertahankan garis posisi tubuh

R/ Untuk mencegah penekanan dan kelelahan

  1. Bantu dan ajarkan penanganan terhadap nyeri, penggunaan imajinasi, relaksasi dan lainnya.

R/ Imajinasi untuk mengalihkan perhatian klien

  1. Tingkatkan aktivitas distraksi

R/ Distraksi mengurangi ketegangan otot.

  1. Gangguan integritas kulit

Tujuan :

Integritas kulit  mengalami perbaikan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24jam.

kriteria hasil :

  1. Lesi mulai pulih dan area bebas dari infeksi lanjut.
  2. kulit bersih, kering dan area sekitar bebas dari edema
  3.  suhu normal kembali.

Intervensi dan Rasional

  1. Kaji kerusakan, ukuran, kedalaman, warna, cairan setiap 4 jam.

R/  Untuk mengetahui derajat keparahan dari luka, mengukur kedalaman penting untuk menentukan volume luka.

  1. Pertahankan di tempat tidur dengan peninggian ekstremitas dan imobilisasi

R/ Untuk mengurangi edema dan dan meningkatkan sirkulasi

  1. Pertahankan tehnik aseptic

R/ Menjaga kebersihan luka.

  1. Gunakan kompres dan balutan

R/ Menjaga luka dari bakteri yang masuk.

  1. Pantau suhu setiap 4 Jam, laporkan ke dokter jika ada peningkatan.

R/ Untuk mengetahui terjadinya inflamasi pada pasien.

3. Kurang pengetahuan

Tujuan :

pasien dan keluarga bertambah pengetahuannya tentang penyakit yang diderita

setelah dilakukan penyuluhan selama 3x pertemuan.

Kriteria hasil :

  1. Pasien dan keluarga mengetahui penyebab dan cara pencegahan dari penyakit yang diderita.
  2. Pasien melaksanakan perawatan luka dengan benar menggunakan tindakan kewaspadaan aseptic yang tepat.
  3. pasien mengekspresikan pemahaman perkembangan yang diharapkan, tanda infeksi serta jadwal obat.

Intervensi da Rasional,

  1. Diskusikan tentang penyebab dan pencegahan penyakit
  2. Demonstrasikan perawatan luka dan balutan, ubah prosedur, tekanan pentingnya tehnik aseptic.

R/ klien dan keluarga mampu merwat luka klien jika dirumah dan slalu menjaga kebersihan luka klien.

  1. Diskusikan tentang mempertahankan peninggian dan imobilisai ekstremitas yang ditentukan

R/ peninggian dan imobilisasi membantu sirkulasi darah klien

  1. Jelaskan tanda dan gejala untuk dilaporkan ke dokter ( nyeri luka atau penambahan cairan, demam, mengigil atau sakit kepala, bau dari balutan yang luka )

R / Nyeri, sakit kepala pada luka klien mengakibatkan kenyamanan klien terganggu. Dan bau dari balutan merupakan tanda bahwa terjadinya abses pada luka klien.

  1. Diskusikan jadwal pengobatan, meliputi nama, tujuan, dosis dan efek samping

R / Dengan mengetahui jenis obat, jadwal pemberian obat diharapkan klien dapat minum obat secara teratur

  1. Tekankan pentingnya diet nutrisi yang sesuai pada klienR / Dengan makan yang bergizi dapat membantu penyembuhan luka .

 

 

 

 

 

 

Askep Glaukoma

ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN GLAUKOMA

BAB I
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa tekanan intra okuler penggaungan pupil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.
Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intra okuler. (Long Barbara, 1996)

B. Klasifikasi
1. Glukoma primer
Glukoma sudut terbuka terjadi karena tumor aqueus mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular kelainannya berkenang lambat.
Glaukoma sudut tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi karena ruang anterior menyempit, sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqoeus mengalir ke saluran schlemm.
2. Glaukoma sekunder
Glaukoma yang terjadi akibat penyakit mata lain yang menyebabkan penyempitan sudut / peningkatan volume cairan dari dalam mata dapat diakibatkan oleh : perubahan lensa
Kelainan uvea
Trauma
Bedah
3. Glaukoma kongenital
Glaukoma yang terjadi akibat kegagalan jaringan mesodermal memfungsikan trabekular.
4. Glaukoma absolut
Merupakan stadium akhir, sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.

Berdasarkan lamanya :
1. Glaukoma akut
Penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intra okuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.
2. Glaukoma kronik
Penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.
C. Anatomi dan Fisiologi
Di dalam terdapat dua macam cairan :
1. Aqueus humor
Cairan ini berada di depan lensa.
2. Vitreus humor
Cairan penuh albumin berwarna keputih – putihan seperti agar – agar yang berada dibelakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina. (Evelin C Pearce : 317)
Dalam hal ini cairan yang mengalami gangguan yang dihubungkan dengan penyakit glaukoma adalah aqueus humor, dimana cairan ini berasal dari badan sisiari mengalir ke arah bilik anterior melewati iris dan pupil dan diserap kembali kedalam aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran schlemm. (Evelin C. Pearce : 317).
Secara normal TIO 10 -21 mmHg karena adanya hambatan abnormal terhadap aliran aqueus humor mengakibatkan produksi berlebih badan silier sehingga terdapat cairan tersebut. TIO meningkat kadang – kadang mencapai tekanan 50 – 70 mmHg.

D. ETIOLOGI
1. Primer
Terdiri dari
a. Akut
Dapat disebabkan karena trauma.
b. Kronik
Dapat disebabkan karena keturunan dalam keluarga seperti :
Ø Diabetes mellitus
Ø Arterisklerosis
Ø Pemakaian kortikosteroid jangka panjang.
Ø Miopia tinggi dan progresif.
Dari etiologi diatas dapat menyebabkan sudut bilik mata yang sempit.
2. Sekunder
Disebabkan penyakit mata lain seperti :
Ø Katarak
Ø Perubahan lensa
Ø Kelainan uvea
Ø Pembedahan

E. Manifestasi Klinis
1. Glaukoma primer
a. Glaukoma sudut terbuka
– Kerusakan visus yang serius
– Lapang pandang mengecil dengan macam – macam skotoma yang khas
– Perjalanan penyakit progresif lambat
b. Glaukoma sudut tertutup
– Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
– Timbulnya halo disekitar cahaya
– Pandangan kabur
– Sakit kepala
– Mual, muntah
– Kedinginan
– Demam bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang dapat sedemikian kuatnya sehingga keluhan mata (gangguan penglihatan, fotofobia dan lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.
2. Glaukoma sekunder
– Pembesaran bola mata
– Gangguan lapang pandang
– Nyeri didalam mata
3. Glaukoma kongenital
– Gangguan penglihatan
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)

F. Patofisiologi
Tekanan Intra Okuler ditentukan oleh kecepatan produksi akues humor dan aliran keluar akues humor dari mata. TIO normal 10 – 21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran akueos humor. Akueos humor di produksi didalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal schlemm ke dalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akueos melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optik dan retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen tanpa penangan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik buta pada lapang pandang.
(Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata, hal 147 – 150)

ASUHAN KEPERAWATAN GLAUKOMA

A. Pengkajian
1. Anamnesis
Anamnesis meliputi data demografi, yang meliputi :
– Umur, glaukoma primer terjadi pada individu berumur > 40 tahun.
– Ras, kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaukoma paling sedikit 5 kali dari kulit putih (dewit, 1998).
– Pekerjaan, terutama yang beresiko besar mengalami trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata sebelumnya atau pada saat itu, riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan Angle Closume Glaucoma), riwayat trauma (terutama yang mengenai mata), penyakit lain yang sedang diderita (DM, Arterioscierosis, Miopia tinggi)
Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topik, sulit berkonsentrasi dan sensitif, dan berduka karena kehilangan penglihatan. (Indriana N. Istiqomah, 2004)
2. Pemeriksaan Fisik
a. Neurosensori
– Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas), sinar terang dapat menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap (katarak), tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
– Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berwarna, peningkatan air mata.(www.IFC.com)
– Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan dalampada glaukoma akut primer, karena anterior dangkal, Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
– Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap.
– Pemeriksaan melalui inspeksi, untuk mengetahui adanya inflamasi mata, sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil, sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. Istiqomah,2004)
b. Nyeri/ kenyamanan
– Ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis0
– Nyeri tiba- tiba / berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut). (www. IFC.com).
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu snellen / mesin telebinoklear
Digunakan untuk mengetahui ketajaman mata dan sentral penglihatan
b. Lapang penglihatan
Terjadi penurunan disebabkan oleh CSV, masa tumor pada hipofisis / otak, karotis / patofisiologis, arteri serebral atau glaukoma.
c. Pengukuran tonografi
Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12 – 25 mmHg)
d. Pengukuran gonoskopi
Membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup
e. Tes provokatif
Digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal / hanya meningkat ringan.
f. Pemeriksaan aftalmoskop
Menguji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina dan mikroaneurisma.
g. Darah lengkap, LED
Menunjukkan anemia sistemik / infeksi
h. EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
Memastikan arterosklerosis, PAK
i. Tes toleransi glukosa
Menentukan adanya DM

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan kebutaan
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : nyeri terkontrol / tulang
Kriteria hasil :
Ø Pasien mengatakan nyeri berkurang / hilang
Ø Ekspresi wajah rileks
Ø Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Intervensi :
a. Observasi derajat nyeri mata
Rasional : mengidentifikasi kemajuan / penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b. Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang
Rasional : stress mental / emosi menyebabkan peningkatan TIO
c. Ajarkan pasien teknik distraksi
Rasional : membantu dalam penurunan persepsi / respon nyeri
d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program
Rasional : untuk mengurangi nyeri
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria hasil :
Ø Pasien berpartisipasi dalam program pengobatan
Ø Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan lebih lanjut.
Intervensi :
a. Kaji derajat / tipe kehilangan penglihatan
Rasional : mengetahui harapan masa depan klien dan pilihan intervensi.
b. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan.
Rasional : intervensi dini untuk mencegah kebutaan, klien menghadapi kemungkinan / mengalami kehilangan penglihatan sebagian atau total.
c. Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
Rasional : Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut
d. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, misalnya agen osmotik sistemik.
Rasional : untuk mengurangi TIO
3. Resiko cedera berhubungan dengan kebutaan
Tujuan : peningkatan lapang pandang optimal
Kriteria hasil :
Tidak terjadi cedera.
Intervensi :
a. Bersihkan sekret mata dengan cara benar.
Rasional : sekret mata akan membuat pandangan kabur.
b. Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata yang terlibat.
Rasional : terjadi penurunan tajam penglihatan akibat sekret mata.
c. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu penglihatan klien.
d. Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan salep mata
Rasional : membersihkan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah penggunaan obat mata.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawata Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 1. Jakarta : FKUI.